Lakukan Panggilan Kirim SMS

Kirim WhatsApp

 Klik Untuk Kontak Kami

0822-1138-3848

Kisah Inspiratif || AKU BISA

Posted in Blog.

AKU BISA

NELLI NOFELA GULTOM || PROGRAM VOKASI UNIVERSITAS INDONESIA


Aku dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Tulang punggung keluarga adalah Ayah, sementara Ibu hanyalah sebagai Ibu Rumah Tangga. Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak pertamaku masih kuliah yang selalu menjadi kebanggaan keluargaku. Saya tidak tahu sudah berapa semester dia kuliah sampai sekarang belum juga wisuda. Sementara kakak keduaku langsung bekerja selepas lulus SMA. Sekarang dia sudah menikah. Adikku satu-satunya terlihat malas belajar sehingga nilainya tidak terlalu bagus. Sementara aku, berencana untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri setelah lulus SMA. Meskipun orangtuaku menginginkan aku untuk melanjutkan lkuliah, namun aku berkeras untuk bekerja.

 

Aku berangkan ke Pekanbaru untuk melamar pekerjaan sebagai SPG di salah satu pusat perbelanjaan. Selama dua bulan bekerja, aku tidak tahan karena hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan kerja keras yang dikerjakan. aku akhirnya pulang ke kampung halamanku, di Duri. Aku sadar, bahwa lulusan SMA akan menjadi bawahan ketika bekerja.

Aku memutuskan untuk merantau ke Jakarta mencari peruntungan pekerjaan yang lebih baik. Orangtuaku tentu tidak setuju dengan keputusanku. Namun aku terus berkeras hati sampai akhirnya mereka merestui dengan berat hati. Aku berangkat ke Jakarta pada bulan September 2013. Di Jakarta, aku tinggal di tempat Kakak sepupuku. Aku berencana melanjutkan kuliah di swasta namun pendaftaran sudah ditutup. Kemudian aku disarankan untuk belajar sambil menunggu pembukaan SBMPTN di tahun 2014.

Aku akhirnya mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan SBMPTN tahun 2014. Seperti halnya orang daerah yang datang ke Jakarta, logat daerah masih sangat kental dalam setiap pembicaraanku. Oleh karena itu, saya sering dibully oleh teman-teman. Hari demi hari aku lewati bimbingan belajar dengan bullying yang terus aku dengar. Sampai aku sepertinya ingin menangis karenanya. Namun, aku terus bertahan karena tekad untuk membahagiakan orang tuaku lebih besar daripada hinaan mereka kepadaku. Wajah kedua orangtuaku selalu menjadi penyemangat hidupku.

Suatu hari, aku mendapatkan teman baru bernama Daniel yang ikut belajar di bimbel yang sama denganku. Dia sebenarnya sudah kuliah dengan beasiswa namun keluar karena merasa tidak sesuai dengan kata hatinya. Daniel selalu memberikan motivasi agar aku selalu semangat belajar. Semua penderitaan pasti akan ada ujungnya. Usaha yang kita lakukan pasti akan ada hasilnya.

Tidak terasa bulan Juni waktu ujian SBMPTN sudah dekat. Pendaftaran akhirnya dilakukan, namun aku belum terfikir untuk kuliah dimana. Daniel memberikan motivasi untuk mendaftar di Universitas Indonesia, kampus impiannya dan kampus terbaik di negeri ini. Aku sangat tidak percaya diri untuk mendaftar di UI karena aku hanya orang kampung yang merasa tidak layak untuk kuliah di UI. Daniel sekali lagi memberikan motivasi dengan mengajakku berjalan-jalan ke kampus UI. Aku akhirnya mantap mengambil Universitas Indonesia untuk menjadi kampus tujuanku bersama Daniel. Akupun semakin semangat untuk belajar dan mengerjakan latihan soal.

Pendaftaran dibuka dan aku mendaftar SBMPTN dan SIMAK UI. Tekad untuk masuk UI sudah bulan dalam hatiku. Sangat terasa semangat itu ketika mengerjakan ujian. Walaupun terasa sulit, aku terus berusaha dengan maksimal untuk menyelesaikan ujian dengan kemampuan terbaik. Pada akhirnya saya pasrah dengan keputusan Tuhan. Saya berdoa dengan tulus demi kelulusanku.

Hasil SBMPTN ternyata sangat jauh dari harapanku. Aku tidak diterima masuk UI. Aku menangis seharian karena kekecewaanku. Ayah yang mendengar juga sangat kecewa dengan hasil ujian SBMPTN ini. Dia memintaku untuk mendaftar UMB dan aku menurutinya karena aku takut dengan hasil SIMAK UI yang belum keluar hasilnya.

Tepat tanggal 21 Juli 2014, hasil SIMAK UI diumumkan. Aku sebenarnya kurang bersemangat untuk melihat hasil ujianku. Kesedihan saat pengumuman SBMPTN masih terus aku rasakan dan aku tidak mau lagi melihat kata "MAAF" dalam hasil pengumuman SIMAK UI ini. Dengan perasaan pasrah, akupun membukan pengumuman SIMAK UI. Bukan kata "MAAF" yang keluar, tetapi kata "SELAMAT" yang aku saksikan di layar komputer di hadapanku. Air mataku kembali menetes karena gembira. Terasa seperti mimpi aku akan menjadi mahasiswa Universitas Indonesia, kampus terbaik di negeri ini. Kebahagiaanku juga melintas ke kampung halamanku. Ayah dan Ibuku sangat gembira mendengar kelulusanku. Aku bisa membayangkan senyum kegembiraan yang tersungging di bibir mereka. Akhirnya aku bisa membuat mereka bangga.

Tuhan pasti akan memberikan hasil seperti apa usaha kita. Dengan usaha yang keras serta doa yang tulus siang malam, akhirnya aku menjadi mahasiswa UI. Aku bertekad untuk kembali memberikan kebanggaan kepada keluargaku di kampung halaman. Dengan belajar tekun dan menjadi mahasiswa teladan dengan lulus terbaik. Di Univeritas Indonesia, aku akan mengubah keluargaku. Selanjutnya, semoga kalian juga akan menjadi bagian keluarga besar Universitas Indonesia.

UI, IMPOSSIBLE?

Kumpulan Kisah Peruangan untuk Menjadi Mahasiswa di Kampus Impian