Sabar berada pada tiga tempat

Para ulama menjelaskan bahwa sabar haruslah ada pada tiga tempat yaitu :

Pertama :  Sabar dalam menjalankan ketaatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya  yaitu dengan senantiasa menjaga ketaatan. Ini  tentu membutuhkan keikhlasan dan kesabaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : Washbir nafsaka ma’aladzi yad’uuna rabbahum bil ghadawaati  wal’asyiiyi yuriiduuna wajhahu…. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi  dan senja hari dengan  mengharap  wajah-Nya. (Q.S al Kahfi 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulah berkata :  Sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah lebih utama dan sempurna daripada menjauhi  yang diharamkan-Nya karena kemashlahatan mengerjakan ketaatan lebih disukai Allah daripada kemashlahatan  menjauhi maksiat.

Kedua : Sabar dalam menjauhi larangan.

Untuk menjauhi larangan Allah dibutuhkan kesabaran. Apalagi saat ini begitu banyaknya godaan. Pintu-pintu maksiat yang dilarang Allah terbuka dimana-mana. Bahkan setiap saat dengan mudah bisa masuk ke rumah kita bahkan ke kamar tidur kita

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata : Sabar dalam menjauhi yang diharamkan Allah, yaitu seorang hamba hendaklah menahan diri dari yang Allah haramkan. Karena jiwa ini senantiasa memerintahkan kepada keburukan.

Ketiga : Sabar dalam menerima takdir.

Allah mentakdirkan bagi seorang hamba dua ketetapan yaitu :

1. Ketetapan Allah yang sesuai dengan keinginan manusia. Diantaranya adalah berupa keselamatan, harta yang banyak, jabatan dan pangkat serta berbagai kelezatan dunia.  Seorang hamba jangan sampai tertipu dengan keadaan ini  bersabarlah menghadapinya. Jangan lalai dan haruslah senantiasa bersabar memenuhi hak-hak Allah terhadap harta dan dirinya.

Rasulullah bersabda : “Fawallahi lalfaqra akhsya ‘alaikum walakin akhsya ‘alaikum an tubsatha ‘alaikum dun-yaa kamaa busithat ‘ala man kaana qablakum fatanaa fasuuhaa kamaa tanaafasuhaa watuhlikukum kamaa ahlakat-hum”. Maka demi Allah bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan dari kalian. Akan tetapi aku khawatir apabila dunia telah dibentangkan bagi kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada umat-umat sebelum kalian. Mereka berlomba-lomba sebagaimana kalian juga berlomba-lomba mengejarnya, yang menyebabkan kalian binasa sebagaimana mereka binasa.  (H.R  Imam at Tirmidzi dengan sanad hasan).

Hendaklah kita bersabar dengan ketetapan Allah berupa kenikmatan  yaitu sabar yang  diikuti rasa syukur.

2. Ketetapan Allah  berupa cobaan, musibah atau sesuatu yang tidak dikehendaki. Ini adalah sunatullah yang  akan selalu ada pada kehidupan seorang hamba.

Sungguh musibah dan cobaan yang menimpa manusia adalah ketetapan Allah yang tidak bisa ditolak. Bersabar dan terimalah ketetapan ini dengan hati lapang  agar derita musibah tidak bertambah berat.

Allah Ta’ala dalam banyak ayat al Qur’an telah mengingatkan kita tentang ujian dan cobaan yang pasti akan menimpa setiap manusia.

Allah Ta’ala berfirman : “… Liyabluakum ayyukum ahsanu ‘amalaa …Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya… (Q.S al Mulk 2).

Allah Ta’ala berfirman : “Ahasibanaasu aiyutrakuu aiyaquuluu amannaa wahum laa yuftanuun”. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan ; Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi. (Q.S al Ankabut 2).

Allah Ta’ala berfirman : “Maa ashaaba min mushibatin illa bi-iznillah” Tidak ada sesuatu musibahpun menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah (Q.S ath Thaghabun 11).

Rasulullah bersabda : “Matsalul mu’minin kamatsalil zau’i, laa tazaalur riyaahu tufii-uhu walaa yazaalul mu’minu yushibuhu balaa’. “ Permisalan seorang mukmin seperti tanaman, angin akan senantiasa menerpanya. Seorang mukmin itu akan selalu ditimpa cobaan. (H.R  Imam Muslim dan Imam Tirmidzi).

Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan kita kesabaran dalam menjalani ketaatan, dalam menjauhi larangan  dan  sabar  dalam menerima ketetapan atau takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Allah Bersama Orang yang Sabar

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa kebersamaan Allah pada orang-orang yang sabar bukanlah kebersamaan yang umum, tapi kebersamaan yang khusus. Maksudnya, Allah membersamai orang-orang yang sabar dengan tiga cara:

  1. Allah Menjaganya
  2. Allah Melindunginya
  3. Allah Menolongnya

Kita sering dengar perkataan, “Allah bersama orang-orang yang sabar” Ini dia ayatnya:

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

…dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.“ (Q.S. Al Anfal: 46).

1. Allah Menjaganya

Jika ada rencana jahat yang dibuat untuk menjatuhkan/menyelakakan seseorang, maka Allah akan hancurkan/gagalkan sebelum rencana itu dijalankan. Hal ini mirip dengan berantakannya rencana yang dibuat antara orang Kafir Quraisy dengan Bani Quraidhah di Madinah. Sebelum rencana itu terwujud, saat perang Khandak. Begitulah cara Allah menjaga hamba-Nya.

2. Allah Melindunginya

Jika rencana jahat sudah dibuat dan kemudian rencana itu dapat dijalankan maka pada saat itu Allah tidak sedang menjaga tapi Dia akan melindungi dengan cara rencana jahat itu takkan bisa menyentuh/mengenai apalagi mencelakai orang tersebut. Mirip sekali dengan peristiwa pengepungan rumah Rasulullah oleh pemuda-pemuda Kafir Mekkah di malam hijrah. Sehingga Allah katakan:

وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

"Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Q.S. Yasin: 9)

Sehingga walaupun Rasul dan Abu Bakar lewat di hadapan, tapi mereka tak melihatnya hingga Rasulullah dan Abu Bakar selamat. Begitulah cara Allah melindungi hamba-Nya.

3. Allah Menolongnya

Ketika rencana jahat sudah dibuat kemudian dijalankan dan mengenai orang yang ingin dijahati tersebut, itu berarti Allah tidak sedang ingin menjaga dan melindunginya, tapi ingin menolongnya dengan cara menurunkan “tentara-Nya” untuk membantu menghadapi, menghancurkan dan mengalahkan kejahatan itu. Mirip sekali dengan peristiwa perang Uhud fase kedua, di saat kaum muslimin saling terpisah, berlari dari musuh, saat itu Rasulullah dalam keadaan terkepung bersama Thalhah dan 10 orang Anshor. Hingga 10 orang Anshor terbunuh dan Thalhah pingsan karena terlalu banyak darah yang keluar dari luka-lukanya. Tinggallah Rasul sendiri dalam keadaan terluka dan kaki terperosok, sementara orang kafir yang mengepungnya begitu bernafsu membunuhnya. Tapi detik itu juga Allah perintahkan Jibril as dan Mikail as untuk turun ke bumi menjelma jadi 2 orang pasukan yang menghadapi dan membunuh semua orang yang mengepung dan siap membunuh Rasul SAW, dalam sekejap. Begitulah cara Allah menolong hambaNya. Begitulah cara Allah membersamai orang-orang yang sabar.