• SELAMAT DATANG DI WEBSITE GURU LES PRIVAT GERBATAMA UI

  • SELAMAT

  • SELAMAT DATANG

  • SELAMAT DATANG DI

  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE

  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE GURU

  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE GURU LES

  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE GURU LES PRIVAT

  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE GURU LES PRIVAT GERBATAMA UI

  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE GURU LES PRIVAT GERBATAMA UI

Kisah Seseorang Yang Bodoh Matematika

Written by Administrator. Posted in Blog.

Masa Lalu Itu

I have learned that people will forget what you said. People will forget what you did, but people will never forget haw you made them feel.

Maya Angelou

Dulu saat masih duduk di bangku sekolah, saya selalu merasa bahwa saya adalah anak yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang terlalu menonjol dalam aktivitas dan prestasi belajar saya di sekolah. Nilai-nilai hasil belajar yang saya capai hampir bisa dikatakan tidak buruk, termasuk dalam kategori cukup atau pas, meskipun beberapa kali cenderung di bawah rata-rata. Saya sudah berusaha cukup keras untuk mendongkrak nilai-nilai pelajaran saya.

Saya akui bahwa saya sangat lemah dalam pelajaran hitungan, terutama matematika, kimia, dan fisika. Sejujurnya, saya merasa perlakuan yang tidak simpatik di kelas, hanya gara-gara nilai matematika yang rendah dan makin membuat saya rendah diri. Tahun demi tahun sebagai iswa sekolah selama belasan tahun lenih banyak membuat diri saya belajar dalam situasi tertekan secara psikis.


Belajar di Bawah Tekanan

Orang tua saya, selalu menyekolahkan saya di sekolah yang mahal dan pastinya itu adalah sekolah favorite yang diinginkan oleh anak-anak pelajar dan menjadi kebanggan para orang tua. Tetapi kondisi inilah yang menciptakan iklim kompetisi yang ketat dan taraf mutu yang tinggi. Ini benar-benar tekanan yang cukup berat bagi saya. Saya berusaha belajar keras bukan untuk mengerti tapi menghindari perlakuan dan pandangan “ meremehkan” dari guru-guru matematika.

Standar pengukuran prestasi siswa di sekolah saya mengacu pada pencapaian nilai tinggi dalam pelajaran matematika. Teman-teman saya yang memiliki kemampuan luar biasa dalam matematika sering kali dikirim mewakili sekolah mengikuti berbagai ajang lomba matematika atau fisika.

Suatu hari saya pernah ditanya oleh salah satu guru, dia menanyakan tujuan sekolah menengah atas yang akan saya pilih nanti setelah lulus. Kemudian saya menjawab dengan antusias bahwa saya ingin melanjutkan k SMA X, salah satu siwa favorit yang siswa-siswanya banyak menyumbangkan medali emas dalam olimpiade matematika, fisika da kimia mewakili Indonesia. Namun, tanggapan yang saya dapatkan sungguh mengejutkan, dan tentu membuat saya sakit hati. Mendengar jawaban saya, guru itu tertawa terbahak-bahak di depan kelas sambil mencibir saya di hadapan sekitar tiga puluh teman sekelas saya dengan pandangan sinis. Sikapnya yang “memandang enteng” itu seakan-akan hendak mengatakan bahwa sebaiknyasaya jangan mimpi bisa masuk sekolah itu.

Saya menjadi tidak percaya diri, lalu makin lama makin terpengaruh oleh pandangan orang bahwa saya “bodoh”.


Apa Benar Saya Bodoh?

Rasa benci pada matematika tidak bisa saya ungkapkan kepada siapa pun. Saya merasa seperti hidup di tengah angin kencang. Semua pohon bedoyong mengikuti angin dan saya terpaka harus mengikuti arus, bahwa matematika merupakan pelajaran yang harus disukai dan dikuasai. Pernahkah anda berpikir? Mungkinkah anda merasa diri anda bodoh? Dulu, saya merasa bahwa saya anak bodoh. Saat dibangku SMP ada seorang siswa yang namanya hampir mirip dengan saya. Tidak sengaja saya mendengar percakapan beberapa guru mengenai perbandingan antara memanggil saya denga siwi tersebut. Mereka mengatakan bahwa saya berbanding terbalik dengan teman saya trsebut. Saya tidak secantik dia dan tidak sepintar dia. Nama boleh mirip tapi kepintaran tidak mirip sama sekali.

Sampai saat ini saya tidak dendam dengan teman dan guru tersebut. Bahkan hingga detik ini saya masih akrab dengan teman saya itu. Namun, percakapan singkat yang tidak sengaja saya dengar membuat suara hati batin saya bertanya. Apakah saya sebodoh itu?


Perlakuan Khusus

Bukan hanya tekanan-tekanan tertentu yang saya rasakan karena lemah dalam pelajaran matematika, tetapi ada pula “perlakuan khusus” yang saya terima di kelas. Melalui perlakuan khusus itu, ada perasaan yang tertanam kuat dalam kesadaran saya bahwa saya adalah “murid yang lemah” dan “murid yang tidak berpretasi.”

Perlakuan khusus itu saya dapatkan dari guru matematika senior yang juga sekaligus wali kelas saya pada saat itu. Setiap memasuki ruangan kelas, dia akan memanggil nama saya dan menyuruh saya keluar dari dalam kelas. Di depan kelas dia menyiapkan satu bangku khusus. Di situlah saya duduk selama mengikuti pelajaran matematika yang disampaikannya, terpisah dari teman-teman kelas yang lain. Bahkan soal ujian yang diberikan kepada saya berbeda dengan yang lain. Tidak cukup sampai disitu, kalau nilai ulangan matematika saya rendah, saya akan menerima hukuman dengan cara harus berjalan jongkok menyusuri koridor sekolah yang terdiri dari lima ruangan. Bayangkan, jika berjalan jongkok sepanjang koridor itu 15 meter bolak-balik berarti 30 meter. Itu hukuman untuk satu kali nilai ulangan matematika yang rendah. Tinggal dikalikan saja beberapa kali saya mendapatkan nilai ulangan matematika yang rendah.


Remedial dan Kursus

Karena ketidakmampuan saya dalam matematika,saya tidak tinggal diam. Saya selalu berusaha agar saya bisa keluar dari situasi tersebut. Salah satu upaya yang saya lakukan adalah mengikuti remedial dan mengikuti kursus. Di sekolah saya banyak sekali dibentuk kelompok belajar. Kelompok belajar ini kebanyakan dibentuk atas prakarsa para guru,dengan tujuan untuk melath secara intensif kemampuan para siswa dalam pelajaran tertentu. Umumnya ,kelompok belajar ini lebih fokus pada pengasahan kemampuan matematika.

Para siswa yang menjadi anggotanya pun bukanlah anak-anak sembarangan. Mereka kebanyakan adalah orang-orang dengan prestasi yang uggul dalam bidang matematika. Tidak sembarang siswa bisa bergabung didalamnya. Tentu saja,cara pembelajaran matematika yang ditetapkan dalam kelompok belajar ini sangat berbeda dengan kelopok –kelomok belajar untuk parasiswa yang “lemah” matematika. Kelomok belajar yang terakhir ini biasa disebut kelas remedial matematika. Sering saya bertanya, “Mengapa harus ada perbedaan cara menagjar antara dua kelompok ini?”

Para guru sepertinya sengaja membuat perbedaan dalam cara mengajar maupun metode pembelajaran matematika antara kelas matematika dan kelas remedial. Namun bagi saya para guru tidak menayadari dampak psikologis yang dirasakan oleh para siswa kelas remedial denga perbedaan semacam itu.

Suatu ketika ibu saya meminta dengan hormat kepada salah seorang guru matematika untuk memberikan pelajaran tambahan kepada saya usai jam pelajaran sekolah. Namun jawaban guru itu sangat mengejutkan ibu saya. Katanya, “percuma bu, Marlene diberikan les, nilai paling tinggi yang ia bisa capai juga tidak bisa sampai 100.” Kata-kata yang sungguh mengejutkan dan bagi saya sangat menyakitkan.


Luka Batin Yang Berbekas

You cannot control what happen to you,
But you can control your attitude toward
What happens to you, and in that, you will
be mastering change rather than allowing it
to master you.
Brian Tracy (American Televesion Host)

Waktu itu ibu saya datang ke sekolah untuk mengambil rapor. Setelah menunggu dengan cemas selama beberapa menit, ibu keluar dari kelas. Saya membayangkan wajah ibu pasti biasa-biasa saja , bahkan mungkin sedikit cemberut. Namun, di luar dugaan, ibu keluar dari kelas denan wajah tersenyum lebar. Ibu menghampiri saya sambil berkata, “Nilai-nilaimu semester ini cukup baik, nak.”

Saya tidak percaya mendengarnya. Dengan semangat saya mengambil rapor dari tangn ibu dan memperhatikan dengan seksama angka-angka yang tertera di sana. Benar, nilai-nilai saya bagus! Dengan bangga saya memamerkannya dengan teman-teman lain. Seorang teman berseloroh, “Hei, tidak mungkin kamu mendapatkan nilai-nilai sebagus itu. Rasanya wali kelas kamu salah memasukkan nilai dan menjumlahkan total nilainya. Coba kamu tanyakan dan periksa lagi. “ Dengan segera saya pun menghampiri wali kelas saya untuk memastikannya.

Wali kelas saya meneliti kembali agka-angka yang tertera dalam rapor saya, lalu tak lam kemudian dia tertawa sambil berkata, “Wah, benar saya salah memasukkan nilai-nilaimu. Saya juga kaget, mana mungkin kamu bisa mendapatkan nilai-nilai sebagus ini?” Duerr! Sekujur tubuh saya terasa lemas. Ingin rasanya menyembunyikan muka ini entah dimana. Hati saya rasanya sakit sekali mendengarkomentar sang wali kelas ini. Namun yang paling membuat hati saya sedih adalah ketika melihat wajah ibu yang berbalik muram. Tidak ada senyum merekah seperti sebelumnnya. Kebanggan yang tadi terpancar darikata-kata kini memudar menjadi kekecewaan.


Hati Yang Kecewa

Di saat inilah, saya merasakan pedih yang menjadi-jadi. Inta Saya pernah memiliki seseorang yang saya sukai. Saat itu kami berpacaran dengan asas “cinta monyet”, maklum cinta nak remaja d sekolah menengah pertama. Saat itu pasangan saya merupakan seorang yang sangat pintar matematika, dan ia adalah anak kesayangan guru matematika. Sang guru matematika pernah bicara pada saya untuk tahu diri jika ingi berpacaran. Dan, saya menerima surat dari bimbingan konselling untuk memanggil orang tua saya datang ke sekolah. JEGER!!!! Rasanya seperti disamber geledek. Orang tua saya tidak tahu tentang hubungan ini. Bagaimana rasanya memberitahu mereka? Saya akan mengecewakan mereka. Dengan berbohong, saya minta ibu saya datang ke sekolah dengan alasan ada seminar pendidikan bagi orangtua.

Sekeluarnya ibu saya dari ruang konselling, mukanya begitu marah dan marah, beliau tidak berbicara sepatah kata pun pada saya. Saya hanya bisa berdiam dan bertanya-tanya. Apa sakah saya hingga hingga sekolah ini begitu menekan saya? Semua kesalahan dan kekecewaan seakan menumpuk jadi satu. Menjadikan luka batin yang begitu mendalam.


Bangkit dan Memaafkan

Tanpa semangat dan langkah lunglai saya berjala menuju SMA yang menjadi pilihan saya secara TERPAKSA. Di kelas 1-3 saya berteman dengan teman-teman yang berasal dari SMP yang berbeda-beda. Dan mereka mengubah saya menjadi Marlene yang berani mencoba hal-hal baru dan Marlene yang pemberani, yang bebas melakukan apa pun, yang memiliki rasa snang pergi ke sekolah. Saya memiliki teman satu geng yang berisikan tujuh perempuan.

Dendam dan luka batin itu perlahan mengubah pribadi Marlene menajdi siswi yang menginginkan perubahan dan kebebasan dengan cara yang salah. Saya sering bolos sekolah, kelakuan saya di sekolah sangatlah tidak baik. Saya pernah membubarkan kelas 1-3 saat pelajaran Komputer karena gurunya datang terlambat. Sepulang sekolah pekerjaaan saua adalah “nongkrong” di Mall. Saya tidak pernah membawa pulang buku-buku pelajaran sehingga saya tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah.

Tanpa saya ketahui, ternyata guru-guru pernah memanggil orang tua saya untuk mendiskusikan perbuatan-perbuatan saya selama dei sekolah. Sampai akhirnya ibu mendapatka solusi untuk dapat mengubah hidup saya. Ibu akan mengirinkan saya sekolah di luar negeri jika rapor saya bagus. Mendengar hal itu, saya senang bukan kepalang. Pihak guru pun turut membantu memberikan solusi kepada saya menuju perubahan menjadi anak yang baik. Mereka percaya saya memiliki kemampuan yang bisa membawa perubahan.

Pernyataan dari ibu saya dan dan kesempatan dari guru-guru membuat saya mengubah cara berpikir secara 180 derajat. Setelah kenaikan kelas 2 menuju kelas 3, saya mulai mengubah hidup sayamenjadi dewasa dan bertanggung jawab. Penemuan yang paling hebat dari generasi saya adalah bahwa manusia dapat mengubah kehidupan mereka dengan mengubah pola pikir mereka.


Memaksimalkan Potensi yang Terpendam

Dengan rendah hati saya ingin mengatakan : Saya cerdas! Kecerdasan yang saya miliki bukanlah karena semata-mata pengalaman masa lalu yang saya alami. Ada begitu banyak proses yang harus saya lewati, alami, dan pelajari sehingga saya mampu memaksimalkan apa yang saya miliki menjadi sebuah kesuksesan.

Potensi yang saya miliki memang bukan matematika tapi saya punya bahasa yang menjadikan saya senang berbicara di depan umum dan selalu menjadi pemimpin sebuah acara (MC). Dengan perubahan saya pun bisa lulus dengan nilai yang memuaskan kecuali nilai matematika yang bisa dikatakan cukup.

Tips mengeluarkan potensi secara maksimal

  1. Kenali dan temukan cara belajar yang nyaman
  2. Bangkitkan rasa percaya diri
  3. Budayakan gemar membaca


Love, Hope, Faith

Cinta adalah kehidupan. Jika kehilangan cinta, artinya kita kehilangan arti kehidupan.

Leo Buscaglai

 Love – Cinta

Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta. Cinta antara ayah ibu dan anak dan cinta seorang guru terhadap anak didiknya. Apapun yang terjadi di dalam diri dan kehidupan kita, entah itu kesulitan, kesedihan, masalah, kekecewaan, atau dendam sekalipun, selama kita masih memiliki cinta dan kasih sayang serta keyakinan, kita akan bangkit dan menatap masa depan yang penuh harapan dan dengan berani berkata : INILAH AKU!!!!!!!!

Karena cintalah yang dapat mengubah kejahatan menjadi kebaikan, kasih sayanglah yang mengubah dendam menjadi pemaaf, cintalah yang melatar belakangi seseorang berhasil.

Hope – Harapan

Hanya di dalam harapanlah seseorang dapat berani maju. Dalam sepak bola paila dunia, ketika kedua tim masuk ke lapangan hijau, mereka pastikan membawa harapan kemenangan. Ketika mereka menginjakkan kaki tanpa harapan kemenangan, saya rasa sia-sialah semua jerih payah dan keringat mereka selama bertanding. Sama halnya dengan pelatih/ guru, sesulit apapun strategi yang dia terapkan, tanpa harapan bahwa sang pemain atau murid dapat menjalankannya dengan baik , percumalah waktu latihan yang telah lelah dijalani bersama-sama.

FAITH – YAKIN

Kepercayaan untuk menjadi pemenang, jawabannya ada dalam diri kita. Orang tua dan guru sudah memberikan cinta dan harapan untuk menumbuhkan keyakinan dalam diri kita. Di masa lalu pengalaman yang menagtakan saya “bodoh” dapat berubah karea keyakinan yang ada dalam diri saya. Keyakinan saya dapat mengatasi cemoohan dan ejekan masa lalu. Sekarang saya bisa berdiri dengan membawa bendera sukses! Saya ingin generasi muda bisa bangkit dengan keyakinan besar melawan tekanan yang mereka hadapi. Jika sungguh-sungguh memahami kekuatan kita, kita pasti mampu terus mengembangkannya. Dan kita mampu melakukan banyak hal yang lebih baik.

Dengan memahami kelebihan kita, kita akan lebih percaya diri ketika berhadapan dengan orang lain. Jangan pernah takut menghadapi masa depan dan dunia walau kamu, kita , saya tidak bisa matematika, walau kamu tidak sempurna secar fisik. Walau kamu tidak memiliki keutuhan keluarga yang harmonis, walau kamu tidak pintar, walau kamu pemalu dan sebagainya. Yakinlah bahwa kita dan anak-anak lain di dunia ini untuk membawa suatu perubahan melalui tangga kesuksesan yang kita naiki.

Akhirnya saya mendapatkan gelar Bachelor of Commece in Public Relations and Marketing gelar master of Commerce Specialization in Human Resource Management di Curtin University Perth, western Australia. Kini saya mendistribusikan keahlian saya di dunia BISNIS ENGLISH, mastering English Fun, Faster, Easier and Meaningful di beberapa perusahaan serta membawakan beberapa seminar yang berkaitan dengan pendidikan di beberapa sekolah. Dan menjadi trainer dalam bidang pengembangan diri, Brain Technology Innovation and Creativity.

Tentang Kami

 

Les Privat Gerbatama UI adalah lembaga penyedia jasa guru les privat datang ke rumah di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Tangerang Selatan, Bandung dan Kota Lain di Indonesia. Les Privat Gerbatama UI didirikan dan dikelola oleh Alumni Universitas Indonesia yang berpengalaman lebih dari 10 tahun.


Alamat


LES PRIVAT GERBATAMA UI

Mulia Asri 8 No 132, Jl KH Dehir
Tanah Baru - Beji - Depok

Call/WA/sms  :
0813-1415-4355
0822-1138-3848
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.